Selasa, 17 Mei 2016

I'm back guys!




(Click to zoom for better quality) Alhamdulillah, ga nyangka. See ya in Palembang, May 29th 2016

Kamis, 05 Mei 2016

Seleksi Tahap 1 Pertukaran Pelajar AFS/YES 2017-2018

¡Hola, Amigos!
¡Buenas Noches!

I'm back again! I have something to tell. Alot actually. But firstly, dunno where to begin. Okey, instance, i join the AFS/YES exchange student test held in Palembang, May 1st in SMA Plus 17 Palembang.

Sekolah yang menurut gue lebih mirip taman safari ketimbang sekolah. Luasnya coy, ada petunjuk jalan udah kaya destinasi wisata hehe. Singkatnya, gue dari Metro bareng Dina, Bima, Vallen, Yusuf, dan Keke. Sampe di sana kita ketemu Rarai, sobat gue dari LCSPN (Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional). For you who haven't know, she is the first placer of poetry-making competition! Hands down!

Jadi setelah dua belas jam perjalanan yang melelahkan dan semalam istirahat yang tidak seberapa di hotel, kita akhirnya menghadapi serangkaian tes pertukaran pelajar AFS/YES yang mendebarkan. Pada awalnya, kita disambut oleh bapak-bapak, gue lupa sapa namanya. Yang jelas dia menekankan bahwa kita yang di sini sudah juara karena sesungguhnya berkas kita telah terseleksi secara otomatis. Dan beliau mengatakan bahwa chapter Palembang adalah chapter pertama yang menerapkan pengkoreksian tes dengan LJK! How Wicked!

Singkatnya tes tahap 1 dimulai. Gue satu ruangan sama Yusuf, Dina, dan Vallen. Entah kok bisa ya haha. Itu semua karena kita deketan submit berkasnya jadi dapet nomornya deketan. Dan kemarin diurutin berdasarkan nomor duduknya. Jadi, kalo mau submit berkas, bareng-bareng temen kalian ya hehe. Tepat di belakang gue, ada cewe anak SMA 9 Palembang. Keliatannya manis dan pinter. Baik pula hehe. Okay, forget it! :" Where was i?

Jadi Tes 1 itu tes tersulit menurut gue. Satu-satunya tes yang begitu merepotkan. Kudu baca koran sana-sini, RPUL, nonton berita, segala macemlah. Gue dibagiin juga tuh soal, dan you know what's in my mind, "Hmmm... quite easy!" Gue tau semua soal untungnya. SEKADAR TAHU atau pernah denger. Gak ada yang bener-bener asing, yang kaya gue belum pernah jawab. Buat yang penasaran gimana bentuk soalnya, kindly click

TIPE SOAL AFS/YES 2017-2018

and you know what? gue banyak yang salah ternyata :/ sudahlah, gue terlalu meremehkan. Soalnya emang gampang sih. Pilihannya bener-bener menjebak dan membunuh! Beruntunglah kalian yang senang membaca koran. Tapi baca pun not enough, kalian harus teliti. Serius deh! Tiap soal itu kalian diporsis mengerjakannya dengan waktu 1,2 menit. Bayangin! Entah gue koreksi yang gue inget aja udah salah 12an. Jadi format soalnya itu begini 1-80 soal pilgan biasa, kita menentukan yang mana yang paling benar. Nah 81-100 itu formatnya seperti ini :

81. Berikut ini pernyataan yang benar mengenai Perjanjian Giyanti
(1) Ditandatangani pada 13 Januari 1755
(2) Secara de facto, mengakhiri kekuasaan Kerajaan Mataram
(3) Membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah kekuasaan
(4) VOC tidak berhak menentukan siapa penguasa dua kerajaan

Nah kita disuruh milih begini,
A apabila pernyataan 1,2,3 benar
B apabila 1,3 benar
C apabila 2,4 benar
D apabila 1,2,3,4 benar

Nih gue kasi tips, kalian gak harus tau semua pernyataan itu bener apa enggak! Kalian cukup cek pernyataan 1-3. Kalo pernyataan 1 pasti salah, jawabannya pasti C karena cuma pilihan C yang ga mencakup pernyataan 1. Kalo pernyataan 2 salah, jawabannya pasti B dan kalo pernyataan 3 salah, jawabannya pasti C. Sulitnya, kalo kalian baru tau kalo pernyataan 4 salah, karena ada dua kemungkinan, kalo gak A ya B. Dan sialnya, pernyataan 4 biasanya yang paling gampang ditebak kebenarannya. T____T

Instance, gue nyesel se nyeselnya. Dah ilang sudah keyakinan w di PU. Pokoknya harus bagus di tes selanjutnya. HARUS! Jadi, selanjutnya ini tes pengetahuan Bahasa Inggris. Serius, deh tes ini paling gampang (tidak bermaksud meremehkan). Jangan sampai salah lebih dari 5 karena soal-soalnya sangat berkaitan dengan TOEFL dan IELTS. Thanks to Bright English School for the TOEFL class! Walaupun akhirnya gue ada yang salah sikit-sikit, hehe...

Yang mau soalnya, udah sekalian gue sebar di link tadi. Sumpah deh, gausah belajar ini mah. Banyakin baca artikel bahasa inggris sekalian cari artinya. Siap sedia Google Translate kalo lagi nonton. Jangan males! mulai dari sekarang!

Dan lastly, break for an hour. Gue gasempet shalat *astaga*. Waktunya singkat reneb woi. Benerlah, tiba-tiba udah essai gitu aja. Essai dibagi tiga soalan gitu. Dan setelah soal dibagiin gue nungguin kertas burem. SERIUS ITU KERTAS BUREM GAADA?! DEMI APA!!! Kaget gue pas pengawasnya bilang kalo kertas buremnya gak ada. Astaga... Dan akhirnya kita make kertas sisa lembar essai dan pas gue maju... "kertasnya udah abis" Oh F*CK! :"

Kebiasaan buruk gue saat nulis essai muncul, bengong dan terlalu rapih. Saking rapihnya, gue keleletan. Gitu sih sampe hampir ga keburu essai gue. Karena gue terlena samping gue semuanya lebih dikit. Nah, sisa waktu 5 menit gue ngebut nulis essai. Sumpeh, hampir ga keburu demiapapun. Udahlah kesel gue. Kumpul-kumpul aja. Ga peduli mau kekmana juga hasilnya.

Kesimpulan : ARGHHHH! Kesel, sebel. Bisa lebih maksimal lagi padahal. Walaupun gue lolos peringkat pertama sekalipun gue gapuas. Karena gue ga melakukan yang terbaik. Ughhh! Buat yang lagi baca dan have plan to do AFS somehow in the future baca tips-tips gue ya :

TIPS SELEKSI 1 AFS/YES 2017-2018

Jangan ampe nyesel kaya gue sekarang. Akhirnya jam 2 kita pulang ke Lampung, Metro lebih tepatnya. Kota kecil di jantung provinsi Lampung dengan penyesalan yang gue seret sepanjang jalan kenangan. Berharap bisa kembali lagi ke Kota Air, Kota Musi, Palembang. Dengan kabar baik. Doakan gue ya!

Adios, Amigos!

Selasa, 03 Mei 2016

Pra-seleksi AFS/YES 2017-2018

Okey, guyss..!! Here i am (again). Without no further ado. Ceritanya gue masih otw ke Palembang untuk mengikuti seleksi tahap 1 pertukaran pelajar AFS/YES yang diadain di Bina Antarbudaya. Nah karena gue tinggal di Lampung, yang paling deket Chapter Palembang. Jadi gue tes di sana.



Jauh-jauh hari sebelum tes, gue udah dihadapkan dengan berbagai macam berkas dan formulir yang harus gue isi secepat-cepatnya. Formulir itu isinya kira-kira
Spoiler :
Data diri berupa nama, tempat tanggal lahir, alamat, data keluarga, goldar
Data akademik seperti nilai rapor dari SD sampek SMA semester 1
Data prestasi seni, olahraga, maupun akademik
Data organisasi
Deskripsi kepribadian
Beragam kesediaan
Di luar itu kita juga diwajibkan mengumpulkan berkas yang banyaknya ga ketulungan. SKHU SMP, Rapor SMA semester 1, Ijazah, Kartu keluarga, dan parahya semua harus dilegalisir! Dah jadinya gue dengan segalamacem keribetannya bolak-balik sana sini buat ngelegalisir semua itu T_T Semua ini gue lakuin demi AFS/YES!

Jadi sebelumnya gue jelasin dulu apa ini AFS / YES.Pasti pada penasaran kan? Jadi AFS/YES  ini kayak semacam program pertukaran pelajar gitu. Loh terus apa bedanya? Jadi gini; AFS ini kayak program pertukaran yang meliputi tiga tahap seleksi. Tahap pertama itu tahap seleksi serba tulis menulis; tes bahasa inggris, tes pengetahuan umum, dan tes esai Bahasa Indonesia. Katanya sih, bobot tes bahasa indonesia ini yang paling tinggi. Nah kalo bahasa inggris ini mirip lah kaya tes TOEFL yang tentang sinonim, antonim, pokoknya perbanyak vocab aja. Lastly, pngetahuan umum. Gausah terlalu dipikirin sih kalo kataku. Cuma nyicil! Serius nyicil ngapalin isi RPUL, banyak2 nonton berita terkini yang lagi heboh gitu. Jangan kaya gue yang males dan teledor. Udah ngeprint kertas banyak2 ujungnya ga kebaca karena gue sepelein.

Next, akhirnya hari keberangkatan pun tiba. Gue izin dari sekolah. Nah gue berangkat bareng2 dari tempat les jam 9. Pas gue dateng... gilak tau ga. Di jadwal jam 8.30. Mana gue ga ngecek dulu. Soalnya missnya dari awal bilang berangkat jam 9. Aduh teledor gue. Sumpah gaenak. Dah ya, singkat crita gue otw Palembang deh...

To be continued

Sabtu, 26 Desember 2015

Workshop Jurnalistik Pelajar SMA se-Kota Metro



Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Metro mengadakan kegiatan workshop jurnalistik bagi pelajar perwakilan sejumlah SMA dan SMK se-Kota Metro di aula atas gedung Disdikbudpora Metro, 17-18 Desember 2015.
            Ketua pelaksana kegiatan, Rifian A. Cheppy, mengungkapkan bahwa kegiatan workshop selama dua hari ini bertujuan untuk menghidupkan kembali aktivitas jurnalistik pelajar Kota Metro yang sempat mengalami mati suri.
            Kegiatan yang baru berlangsung pada hari pertama, Kamis [17/12], dimentori langsung oleh seniman dan sastrawan kawakan Lampung, Iswadi Pratama. Beliau menyampaikan materi dalam beberapa teori pokok jurnalistik yaitu, unsur-unsur berita yang meliputi who, what, where, when, why, dan how. Dilanjutkan dengan teori cara memperoleh data dan informasi melalui wawancara narasumber dan diakhiri dengan materi penulisan berita dalam bentuk soft news dan hard news.
            Iswadi turut menuturkan bahwa seorang jurnalis harus mampu mengamati suatu persoalan dengan persepsi. “Persepsi di sini, memiliki arti sudut pandang seorang jurnalis terhadap suatu topik. Sudut pandang setiap jurnalis tentunya berbeda, tergantung pada hal yang paling menarik perhatian mereka,” jelasnya.
            Setelah pembekalan materi dengan teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktek menulis dengan mengamati sebuah benda berikut evaluasi karya jurnalistik buah tangan para peserta workshop. Iswadi menilai para peserta sudah mampu membuat berita bahkan lebih baik dari beberapa mahasiswa yang pernah dimentorinya. Hal ini tentunya tidak lepas dari antusiasme dan rasa keingintahuan para peserta workshop.
            Menurut salah satu peserta workshop dari SMKN 3 Metro, Robby Satya, kegiatan ini merupakan wadah bagi para pelajar untuk menuangkan minat dalam menulis khususnya menulis berita atau jurnalistik. Robby juga berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan ke depannya. "Saya berjanji selepas kegiatan ini akan mengajak teman-teman untuk menulis karena  menulis membawa banyak manfaat," ujarnya.
            Pada kesempatan ini pula, Cheppy berpesan kepada para peserta agar keaktifan mereka dalam bidang jurnalistik tidak berhenti selepas workshop ini berakhir, yaitu pada Jumat [18/12]. Keesokan hari pemateri berasal dari wartawan (Jakarta Post), Ari Pahala Hutabarat yang banyak menekankan pada penulisan feature. Dia juga berharap para peserta workshop dapat mengirimkan karya jurnalistiknya baik melalui tulisan tangan maupun blog.

Rabu, 28 Oktober 2015

Kurtilas 'Ajarkan' Murid Untuk Bersikap Sok Baik (?)


Realita yang terjadi di sekitar kita sudah tak dapat dipungkiri lagi. Hal tersebut ditandai dengan lunturnya nilai-nilai karakter yang seharusnya tertanam di dalam diri siswa. Tak ayal, saya pun terkadang harus mengakui bahwa saya sendiri merupakan dalang di balik hal tersebut. Contoh sepelenya dapat diambil dari kegiatan sehari-hari saya, dalam konteks ini dapat dicontohkan dengan sikap kurang menghargai kerja keras para dewan guru yang bersusah payah mengoreksi hasil kerja saya. Dan akhirnya saya merasa kurang puas dengan 'goresan tinta' yang ditorehkan di secarik kertas sarat makna. Tanpa sadar, saya mengeluarkan argumen-argumen yang seharusnya tidak pernah saya ucapkan mengingat posisi saya sebagai terdidik, bukan pendidik.

Realita yang terjadi di lingkungan kelas bahkan sekolah di kalangan remaja saat ini bahkan kian memburuk. Guru seakan menjadi alasan nihil atau kecilnya 'goresan tinta' di buku lapor remaja saat ini. Mengingat pada zaman kurikulum dua ribu tiga belas (disingkat : kurtilas) saat ini mendoktrin siswa untuk bersikap 'baik' (atau sok baik) untuk mendapatkan 'goresan tinta' atau sekedar tulisan 'baik' yang tertoreh di buku yang hendak mereka tunjukkan dengan penuh kepongahan.

Definisi sopan dan santun yang paling rendah adalah menghargai, di atasnya ada menghormati. Mau seketat apapun sistem kurikulum yang berlaku di Indonesia, ternyata tidak mampu 'membenahi' watak dan karakter remaja yang sudah di ambang batas wajar dengan hanya goresan tinta berupa A, B, C, ataupun D. Siapapun tidak berhak menilai sikap atau kepribadian seseorang baik dari sudut pandang subyektif atau obyektif. Karena kepribadian itu sepenuhnya adalah harga diri dan martabat yang mencerminkan pola hidup seseorang di lingkungannya.

Apakah Kurtilas mengajarkan untuk bersikap berpura-pura baik di hadapan guru?
Sedihnya, saya menganggap pernyataan tersebut ada benarnya. Namun setelah dipikir masak-masak, saya rasa pendapat tersebut dapat menimbulkan salah tafsir. Hal itu dikembalikan kepada 'opini' para remaja itu sendiri. Saya pribadi, merasa lebih baik bersikap berpura-pura baik dari pada melawan atau membantahnya. Sehingga saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak berkonflik dengan siapapun. Baik itu guru yang dianalogikan sebagai orang tua atau orang yang dituakan pada konteks ini.

Stereotip masyarakat Indonesia yang kebanyakan begitu menunjukkan identitas negaranya sebagai negara berkembang merupakan salah satu alasan dikambing hitamkannya 'kurtilas' sebagai wadah menadah nilai dengan bersikap pura-pura baik di hadapan orang tua mereka di sekolah. Lalu yang seharusnya kita lakukan saat ini adalah : bersikaplah normal, sewajarnya, dan tidak berlebih-lebihan dalam 'mencari nafkah' berupa nilai. Sekali-kali ingatlah, tidak semua orang yang nilainya masuk ke dalam kategori 'baik' dapat dipastikan hidupnya terjamin.

Lalu? pikiran polos anak-anak seharusnya menjawab "nilai" bila ditanya tentang manfaat bersekolah. Nilai yang dapat mereka peroleh dengan beragam cara, halal atau haram. Baik halnya dengan kepribadian, hal yang seharusnya tidak boleh ditelanjangi oleh seseorang. Guru hanya menilai kepribadian seseorang dari hal yang dilihatnya atau diketahuinya di sekolah, tanpa peduli dengan latar belakang dan alasan di balik perbuatannya. Terkait dengan pemaparan di atas, saya menyimpulkan bahwa kepribadian seorang murid di sekolah sepantasnya di nilai oleh Tuhan YME.

Belajar untuk mencari ilmu
Sekolah untuk mencari nilai.